Anif Solchanudin alias Pendek bin Suyadi dijatuhi hukuman 15 tahun penjara dalam kasus bom Bali 2005 karena batal bertindak sebagai pelaksana bom bunuh diri.

WHAT: Anif Solchanudin alias Pendek bin Suyadi dijatuhi hukuman 15 tahun penjara dalam kasus bom Bali 2005 karena batal bertindak sebagai pelaksana bom bunuh diri.
WHO: Anif Solchanudin alias Pendek bin Suyadi, anggota Al-Jemaah Al-Islamiah (JI), Jaksa Putu Indriati, Majelis hakim yang diketuai Daniel Palentin SH, Subur Sugiarto alias Abu Isa, Salik Firdaus, Misno, Aip Hidayatullah, Noordin M Top, Sobri alias Sobron, Reno alias Teddy, gembong teroris Noordin M Top.
WHEN: Tidak disebutkan secara spesifik dalam teks.
WHERE: Pengadilan Negeri Denpasar, Semarang, Majalengka, Cilacap, Ciamis (lokasi kegiatan teroris), Bali, Jawa Tengah, Jawa Barat.
HOW/Chronology: Anif Solchanudin terlibat dalam rencana pelaksanaan bom bunuh diri di Bali 2005, namun perannya digantikan orang lain sebelum bom meledak. Dia terlibat dalam tahap perencanaan, pelatihan di Bukit Ungaran, peran dalam pengembangan bom, memiliki amunisi, dan terlibat dengan sejumlah terduga teroris lainnya.
6. Mengapa terjadi: Terjadi karena Anif Solchanudin terlibat dalam aksi terorisme dengan niat untuk melakukan bom bunuh diri di Bali 2005 bersama anggota Jemaah Islamiyah lainnya.

Analisis Level Ancaman

Senjata: bahan peledak
Sarana: tanpa kendaraan
Metode: terorganisir
Jaringan: nasional
Dukungan: dalam negeri
Bisnis: senjata
Skill: terlatih
Jenis Aktor: bukan negara
Kepentingan: SARA
Intensitas: insidental
Komitmen: terencana
Instrumen: fisik
Target: individu sipil

Perihal: Anif Solchanudin alias Pendek bin Suyadi dijatuhi hukuman penjara 15 tahun karena terlibat dalam aksi bom bunuh diri yang batal dilaksanakan dalam kasus bom Bali 2005.

Opini dan Prediksi: Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya peristiwa ini antara lain adalah pengaruh ekstremisme agama, indoktrinasi terorisme dari gembong teroris, dan motivasi untuk mencapai surga melalui aksi teror. Pelaku dalam kejadian ini adalah anggota Al-Jemaah Al-Islamiah yang terlibat dalam jaringan teroris lokal. Untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, diperlukan upaya pencegahan melalui pendidikan yang mempromosikan toleransi, anti-radikalisasi, dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Kerjasama antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat sangat penting dalam upaya pencegahan terorisme.

Level ancaman relatif terhadap keamanan nasional = 1.23

Enam bom meledak di tiga tempat berbeda di Bali.

WHAT: Enam bom meledak di tiga tempat berbeda di Bali.
WHO: Korban ledakan, saksi mata, pemilik toko di Kuta, petugas medis di rumah sakit, petugas kepolisian, Kapolda Bali I Made Mangkupastika.
WHEN: Hari terjadi pada malam hari tanpa format tanggal yang spesifik.
WHERE: (1) Ledakan di kawasan Hotel Four Season dan Matahari Kuta Square di Kuta, (2) Ledakan di Hotel Westin dan Kafe Nyoman serta Menega di Jimbaran, (3) Ledakan di kawasan Nusa Dua, Bali.
HOW/Chronology: Terjadi enam ledakan bom hampir bersamaan di tiga tempat berbeda di Bali. Ledakan menyebabkan kerusakan, korban luka, dan kepanikan di antara wisatawan dan warga sekitar. Proses evakuasi dan penanganan korban dilakukan oleh petugas kepolisian dan medis.
WHY: Peristiwa kejadian ledakan bom di Bali diduga sebagai tindakan terorisme yang menimbulkan kerugian besar dengan korban jiwa dan luka-luka.

Analisis Level Ancaman

Senjata: bahan peledak
Sarana: tanpa kendaraan
Metode: terorganisir
Jaringan: lokal
Dukungan: tidak diketahui
Bisnis: bahan peledak
Skill: terlatih
Jenis Aktor: bukan negara
Kepentingan: SARA
Intensitas: insidental
Komitmen: terencana
Instrumen: fisik
Target: individu sipil

Perihal: Serangan bom di tiga lokasi berbeda di Bali

Opini dan Prediksi: Terjadinya serangan bom di Bali pada berbagai lokasi terutama di tempat-tempat wisata dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti intoleransi, radikalisme agama, dan ketidaktoleranan terhadap perbedaan. Pelaku serangan ini kemungkinan memiliki kepentingan politik atau ideologis yang bertentangan dengan nilai-nilai kebhinnekaan. Dalang atau pelaku serangan tersebut mungkin berasal dari kelompok teroris yang memiliki agenda tertentu untuk menciptakan ketakutan dan kekacauan di masyarakat. Untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, penting untuk meningkatkan keamanan, memantau dan menindak kelompok-kelompok radikal, serta meningkatkan upaya dialog antaragama untuk mendorong toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Kesadaran masyarakat akan bahaya teroris juga perlu ditingkatkan, serta peran intelijen dalam mengidentifikasi dan menangani ancaman yang mungkin timbul.

Level ancaman relatif terhadap keamanan nasional = 1.29

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) turut buka suara mengenai kebijakan iuran Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang memotong gaji pekerja.

WHAT: Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) turut buka suara mengenai kebijakan iuran Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang memotong gaji pekerja.
WHO: KSPI, Presiden Partai Buruh Said Iqbal, Pengusaha, Pemerintah.
WHEN: Tidak secara spesifik disebutkan dalam teks.
WHERE: Tidak secara spesifik disebutkan dalam teks.
5. Kronologi singkat: KSPI mengkritik kebijakan iuran Tapera yang memotong gaji pekerja karena dianggap membebani buruh. Said Iqbal menyatakan bahwa potongan iuran 3% tidak akan mencukupi untuk membeli rumah. KSPI menolak kebijakan Tapera dan akan menyusun aksi protes.
WHY: KSPI menilai kebijakan iuran Tapera yang memotong gaji buruh tidak adil dan tidak akan membantu buruh memiliki rumah. Mereka menyuarakan keberatan terhadap program tersebut karena dianggap memberatkan ekonomi masyarakat buruh.

Analisis Level Ancaman

Senjata: tanpa senjata
Sarana: tanpa kendaraan
Metode: terorganisir
Jaringan: nasional
Dukungan: dalam negeri
Bisnis: tak berbisnis
Skill: terlatih
Jenis Aktor: negara
Kepentingan: politik
Intensitas: insidental
Komitmen: terencana
Instrumen: fisik
Target: individu sipil

Perihal: KSPI menyuarakan keberatan terhadap kebijakan iuran Tapera yang memotong gaji pekerja.

Opini dan Prediksi: Berbagai faktor yang mempengaruhi terjadi keberatan terhadap kebijakan iuran Tapera antara lain adalah penilaian bahwa iuran yang dipotong tidak cukup untuk memungkinkan pekerja memiliki rumah di masa pensiun, penurunan upah riil buruh, dan pandangan bahwa program Tapera kurang adil dan berpotensi menjadi beban ekonomi bagi masyarakat. Said Iqbal, Presiden Partai Buruh dan KSPI, menjadi salah satu tokoh yang memimpin ketidaksetujuan terhadap program Tapera tersebut. Untuk mencegah kejadian ini terulang di masa depan, pemerintah bisa memperhatikan tuntutan dari KSPI dan Partai Buruh yang mengusulkan revisi UU tentang Tapera, peningkatan upah buruh yang layak, serta kajian ulang terhadap program Tapera agar tidak memberatkan masyarakat, serta memastikan pengawasan untuk menghindari korupsi dalam dana Tapera.

Level ancaman relatif terhadap keamanan nasional = 1.1725714285714288

Razia narkoba di sejumlah kafe dan tempat hiburan malam di Kota Bogor, Jawa Barat.

WHAT: Razia narkoba di sejumlah kafe dan tempat hiburan malam di Kota Bogor, Jawa Barat.
WHO: Petugas gabungan TNI, Polri, dan Satpol PP, serta pengunjung kafe yang positif obat penenang benzo.
WHEN: Hari Rabu, 29-05-2024 22.00 WIB hingga Kamis, 30-05-2024 01.00 WIB.
WHERE: Kafe di Jalan Sholeh Iskandar, Jalan Ahmad Yani, dan Jalan Sukasari, Kota Bogor, Jawa Barat.
HOW/Chronology: Petugas gabungan TNI, Polri, dan Satpol PP melakukan razia narkoba di kafe dan THM di Kota Bogor. Seorang pengunjung kafe ditemukan positif obat penenang benzo. Sebanyak 40 pengunjung diminta tes urine, di mana 1 orang dinyatakan positif. Sebanyak 59 botol miras juga diamankan dalam razia tersebut.
WHY: Razia dilakukan untuk mencegah peredaran narkoba dan minuman keras ilegal di Kota Bogor sesuai dengan tugas dan upaya penegakan hukum oleh kepolisian dan instansi terkait.

Analisis Level Ancaman

Senjata: tanpa senjata
Sarana: mobil
Metode: terorganisir
Jaringan: lokal
Dukungan: dalam negeri
Bisnis: narkoba
Skill: terlatih
Jenis Aktor: tidak diketahui
Kepentingan: lain-lain
Intensitas: insidental
Komitmen: terencana
Instrumen: fisik
Target: individu sipil

Perihal: Razia narkoba di sejumlah kafe dan tempat hiburan malam di Kota Bogor, Jawa Barat.

Opini dan Prediksi: Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya peristiwa tersebut dapat meliputi rendahnya kesadaran akan bahaya penggunaan narkoba dalam masyarakat, kurangnya pengawasan terhadap tempat hiburan malam, dan kurangnya sosialisasi tentang konsekuensi hukum terkait penyalahgunaan narkoba. Para pelaku yang terlibat dalam kasus ini kemungkinan adalah individu yang terlibat dalam peredaran narkoba di lingkungan setempat. Untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, diperlukan langkah-langkah preventif seperti peningkatan pengawasan di tempat-tempat hiburan malam, peningkatan sosialisasi tentang bahaya narkoba, serta meningkatkan kerjasama antara pihak kepolisian, TNI, dan Satpol PP dalam melakukan razia-razia rutin terhadap tempat-tempat yang rentan terhadap penyalahgunaan narkoba.

Level ancaman relatif terhadap keamanan nasional = 1.0251428571428571

Silfester mengingatkan PDIP tentang pendidikan politik bangsa dan mengkritik sikap PDIP terkait Pemilu 2024.

WHAT: Silfester mengingatkan PDIP tentang pendidikan politik bangsa dan mengkritik sikap PDIP terkait Pemilu 2024.
WHO: Silfester, Ketum Solidaritas Merah Putih (Solmet), PDIP, Koalisi Indonesia Maju (KIM), Megawati.
WHEN: Tidak tercantum informasi tentang waktu kejadian.
WHERE: Tidak tercantum informasi tentang lokasi kejadian.
HOW/Chronology: Silfester mengkritik PDIP karena menganggap Pemilu 2024 sebagai yang terburuk dalam sejarah. Dia menyarankan PDIP agar berada di luar pemerintahan Prabowo-Gibran untuk menjaga keutuhan Koalisi Indonesia Maju. Megawati juga bicara tentang sikap politik PDIP berada di dalam atau luar pemerintahan.
WHY: Penyebabnya mungkin ada ketegangan politik terkait penilaian PDIP terhadap Pemilu 2024 dan rekomendasi Silfester agar PDIP berada di luar pemerintahan Prabowo-Gibran.

Analisis Level Ancaman

Senjata: tanpa senjata
Sarana: tanpa kendaraan
Metode: terorganisir
Jaringan: nasional
Dukungan: dalam negeri
Bisnis: tak berbisnis
Skill: terlatih
Jenis Aktor: tidak diketahui
Kepentingan: politik
Intensitas: insidental
Komitmen: terencana
Instrumen: kombinasi
Target: individu sipil

Perihal: Kritik terhadap sikap PDIP terkait Pemilu 2024 dan saran agar PDIP berada di luar pemerintahan Prabowo-Gibran.
Opini dan Prediksi: Sebagai kritik dan saran terkait perpolitikan dalam negeri, kejadian serupa mengenai penilaian terhadap hasil Pemilu atau sikap partai politik telah sering terjadi di masa lalu. Prediksi kejadian serupa bisa terjadi lagi di masa depan, terutama dalam konteks pandangan politik terhadap hasil Pemilu dan posisi partai politik dalam pemerintahan. Faktor-faktor seperti perbedaan pandangan politik, persaingan kekuasaan, dan dinamika internal partai politik dapat mempengaruhi munculnya kejadian serupa tersebut.

Level ancaman relatif terhadap keamanan nasional = 1.1725714285714288

Penangkapan tersangka IM yang diduga menjadi kurir membawa narkotika jenis sabu-sabu seberat 2 kilogram dari Malaysia.

WHAT: Penangkapan tersangka IM yang diduga menjadi kurir membawa narkotika jenis sabu-sabu seberat 2 kilogram dari Malaysia.
WHO: Petugas Direktorat Polisi Air dan Udara Kepolisian Daerah Sumatra Utara, tersangka IM (37), Kepala Bidang Humas Polda Sumut Kombes Pol Hadi Wahyudi.
WHEN: Hari Jumat, 17-05-2019.
WHERE: Perairan Tanjung Kumpul, Kabupaten Asahan, Sumatra Utara.
HOW/Chronology: Petugas Direktorat Polisi Air dan Udara melakukan penangkapan tersangka IM di perairan Tanjung Kumpul. Barang bukti berupa 2 bungkus sabu-sabu ditemukan dalam sebuah tas ransel berwarna biru yang dibawa oleh tersangka. Tersangka diamankan dan dibawa ke Markas Direktorat Polisi Air dan Udara Polda Sumatra Utara untuk proses lebih lanjut.
6. Alasan: Penangkapan tersangka dilakukan karena diduga menjadi kurir yang membawa narkotika jenis sabu-sabu seberat 2 kilogram dari Malaysia, yang merupakan tindakan ilegal dan melanggar hukum narkotika.

Analisis Level Ancaman

Senjata: tanpa senjata
Sarana: tanpa kendaraan
Metode: terorganisir
Jaringan: nasional
Dukungan: luar negeri
Bisnis: narkoba
Skill: terlatih
Jenis Aktor: bukan negara
Kepentingan: kekayaan
Intensitas: insidental
Komitmen: terencana
Instrumen: fisik
Target: individu sipil

Perihal: Penangkapan kurir yang membawa narkotika jenis sabu-sabu seberat 2 kilogram dari Malaysia di perairan Tanjung Kumpul, Kabupaten Asahan, Sumatra Utara.
Opini dan Prediksi: Kejadian serupa terkait penyelundupan narkoba sering terjadi di wilayah perbatasan dan perairan Indonesia. Prediksi kejadian serupa akan terus terjadi di masa depan karena adanya demand yang tinggi terhadap narkoba di Indonesia serta upaya keras dari aparat kepolisian untuk terus memberantas penyelundupan narkoba. Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya kejadian serupa termasuk tingginya profit dari bisnis narkoba, minimnya pengawasan di wilayah perbatasan, dan keterlibatan jaringan internasional dalam perdagangan narkoba.

Penetapan Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor Ali sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pemotongan insentif pegawai di BPPD Kabupaten Sidoarjo oleh KPK.

WHAT: Penetapan Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor Ali sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pemotongan insentif pegawai di BPPD Kabupaten Sidoarjo oleh KPK.
WHO: Tersangka Ahmad Muhdlor Ali, tim penyidik KPK, Wakil Ketua KPK Johanis Tanak, dan Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri.
WHEN: Hari Selasa, 16-04-2024.
WHERE: Jakarta Selatan, dan Rutan Cabang KPK.
HOW/Chronology: KPK menetapkan Ahmad Muhdlor Ali sebagai tersangka pada tanggal 16 April 2024. Pada tanggal 3 Mei 2024, tim kuasa hukum Ahmad Muhdlor memberikan konfirmasi bahwa Bupati tersebut tidak bisa memenuhi panggilan pemeriksaan tanpa alasan ketidakhadiran. KPK kemudian pada tanggal 6 Mei 2024 membuka opsi untuk melakukan jemput paksa terhadap Ahmad Muhdlor sesuai dengan ketentuan KUHAP.
WHY: Ketidakhadiran Ahmad Muhdlor Ali tanpa alasan yang jelas pada panggilan pemeriksaan yang dilakukan oleh KPK.

Analisis Level Ancaman

Senjata: tanpa senjata
Sarana: tanpa kendaraan
Metode: terorganisir
Jaringan: nasional
Dukungan: dalam negeri
Bisnis: tak berbisnis
Skill: terlatih
Jenis Aktor: bukan negara
Kepentingan: politik
Intensitas: insidental
Komitmen: terencana
Instrumen: fisik
Target: aparat sipil

Perihal: Penetapan status tersangka dan penjadwalan pemeriksaan terhadap tersangka Bupati Sidoarjo dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi.
Opini dan Prediksi: Kejadian serupa terkait dengan penanganan kasus korupsi oleh KPK telah terjadi sebelumnya di Indonesia. Prediksi terkait kejadian serupa bisa terjadi lagi di masa depan karena masih adanya praktik korupsi di berbagai daerah di Indonesia. Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya kejadian serupa antara lain kesempatan untuk melakukan tindak korupsi, kurangnya kesadaran hukum, dan lingkungan yang mendukung praktik korupsi.

Polda Sulawesi Tengah memusnahkan narkoba jenis sabu seberat tiga kilogram.

WHAT: Polda Sulawesi Tengah memusnahkan narkoba jenis sabu seberat tiga kilogram.
WHO: Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah.
WHEN: Hari Selasa, 07-05-YYYY (tahun tidak disebutkan).
WHERE: Wilayah hukum Sulteng.
HOW/Chronology: Polisi Polda Sulawesi Tengah memusnahkan tiga kilogram sabu yang merupakan barang bukti dari dua kasus di wilayah hukum Sulteng.
6. Alasan: Mengamankan barang bukti narkoba jenis sabu yang berbahaya dan berpotensi merusak masyarakat serta menindak pelaku kejahatan narkotika.

Analisis Level Ancaman

Senjata: tanpa senjata
Sarana: tanpa kendaraan
Metode: terorganisir
Jaringan: lokal
Dukungan: dalam negeri
Bisnis: narkoba
Skill: terlatih
Jenis Aktor: bukan negara
Kepentingan: kekayaan
Intensitas: kadang-kadang
Komitmen: terencana
Instrumen: fisik
Target: individu sipil

Perihal: Polda Sulawesi Tengah memusnahkan narkoba jenis sabu seberat tiga kilogram
Opini dan Prediksi: Kejadian serupa dalam peredaran narkoba sering terjadi di masa lalu. Prediksi dapat menunjukkan bahwa kejadian serupa akan terus muncul di masa depan, karena peredaran narkoba masih menjadi masalah yang kompleks dan sulit diatasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya kejadian serupa antara lain tingginya permintaan pasar terhadap narkoba, kurangnya pengawasan yang ketat, dan potensi keuntungan finansial yang besar bagi pelaku.

Kepolisian Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Australia bekerjasama menangkap gembong narkoba internasional Fredy Pratama.

WHAT: Kepolisian Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Australia bekerjasama menangkap gembong narkoba internasional Fredy Pratama.
WHO: Fredy Pratama (buron), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Kepolisian Thailand, Kepolisian Malaysia, dan Kepolisian Australia.
WHEN: Senin, 6-05-2024.
WHERE: Jakarta, Thailand, Malaysia, Australia.
HOW/Chronology: Fredy Pratama masih buron dan berada di Thailand. Dia masih aktif menyuplai bahan baku narkoba ke Jakarta. Fredy diketahui mengendalikan clandestine lab di Sunter, Jakarta Utara, yang digerebek oleh Satgas P3GN Polri. Polisi dari empat negara bekerjasama untuk menangkap Fredy dan mengusut jaringannya.
WHY: Fredy gencar mengirim narkoba dan membuat clandestine lab di Jakarta karena dana keuangannya sudah menipis, sehingga dia kehabisan modal.

Analisis Level Ancaman

Senjata: tanpa senjata
Sarana: tanpa kendaraan
Metode: terorganisir
Jaringan: internasional
Dukungan: luar negeri
Bisnis: narkoba
Skill: terlatih
Jenis Aktor: tidak diketahui
Kepentingan: kekayaan
Intensitas: insidental
Komitmen: terencana
Instrumen: fisik
Target: individu sipil

Perihal: Fredy Pratama menjadi buronan dalam kasus narkoba jaringan internasional dan terlibat dalam pengiriman bahan baku narkoba serta pengelolaan clandestine lab di Jakarta.
Opini dan Prediksi: Kejadian serupa telah terjadi di masa lalu dalam kasus peredaran narkoba berskala internasional. Prediksi terkait kejadian serupa di masa depan bisa terjadi jika kolaborasi antar negara dalam pemberantasan jaringan narkoba tidak optimal. Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya kejadian serupa antara lain adalah ketidakmampuan penegak hukum mengatasi perdagangan narkoba lintas negara serta kecenderungan kelompok kriminal untuk terus melakukan kegiatan ilegal demi keuntungan finansial yang besar.

Fredy Pratama, gembong narkoba jaringan internasional, masih buron dan terus menyuplai narkoba ke Jakarta.

WHAT: Fredy Pratama, gembong narkoba jaringan internasional, masih buron dan terus menyuplai narkoba ke Jakarta.
WHO: Fredy Pratama, Kepolisian Republik Indonesia (Polri), dan kepolisian dari Thailand, Malaysia, dan Australia.
WHEN: Senin, 06-05-2024.
WHERE: Jakarta, Sunter (clandestine lab), Thailand (Fredy Pratama bersembunyi di hutan).
HOW/Chronology: Fredy Pratama masih buron dan berada di Thailand, di dalam hutan. Ia terus menyuplai bahan baku narkoba ke Jakarta, yang diproduksi oleh anak buahnya. Polri mengungkap bahwa clandestine lab di Sunter, Jakarta Utara, masih dikendalikan oleh Fredy Pratama. Kasus TPPU istri Fredy Pratama ditangani oleh kepolisian Thailand.
WHY: Fredy Pratama terus melakukan kegiatan ilegal karena dana keuangannya sudah menipis dan dia kehabisan modal.

Analisis Level Ancaman

Senjata: narkoba
Sarana: tanpa kendaraan
Metode: terorganisir
Jaringan: internasional
Dukungan: luar negeri
Bisnis: narkoba
Skill: terlatih
Jenis Aktor: bukan negara
Kepentingan: kekayaan
Intensitas: insidental
Komitmen: terencana
Instrumen: fisik
Target: individu sipil

Perihal: Fredy Pratama masih buron dan masih aktif dalam menyuplai narkoba serta melakukan pencucian uang.
Opini dan Prediksi: Kejadian serupa dalam kasus penyalahgunaan narkoba dan pencucian uang telah terjadi sebelumnya di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Prediksi kejadian serupa dapat terjadi lagi di masa depan karena sifat bisnis ilegal seperti ini cenderung terus berlanjut, terutama jika pelaku masih dalam kebebasan dan memiliki jaringan yang kuat. Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya kejadian serupa termasuk kurangnya kerja sama internasional, minimnya penegakan hukum yang efektif, serta tingginya permintaan pasar terhadap narkoba.