Pangkalan TNI AL Tanjung Balai Karimun menangkap kapal cepat yang membawa Pekerja Migran Indonesia (PMI) non-prosedural di perairan Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.

WHAT: Pangkalan TNI AL Tanjung Balai Karimun menangkap kapal cepat yang membawa Pekerja Migran Indonesia (PMI) non-prosedural di perairan Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.
WHO: Pangkalan TNI AL Tanjung Balai Karimun, Kapal cepat mesin 15 PK, Pekerja Migran Indonesia (PMI) non-prosedural, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Muhammad Ali.
WHEN: Tidak tercantum dalam teks.
WHERE: Perairan Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.
HOW/Chronology: Kapal cepat yang membawa PMI non-prosedural ditangkap oleh Pangkalan TNI AL Tanjung Balai Karimun. Kasal Kasal Laksamana TNI Muhammad Ali memberikan instruksi untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menindak tindakan ilegal di wilayah perairan Indonesia terutama di perairan Karimun, Kepri.
WHY: Maraknya perlintasan PMI non-prosedural melalui perairan Karimun, Kepulauan Riau, yang dianggap sebagai upaya ilegal dan perlu ditindak tegas oleh aparat berwenang.

Analisis Level Ancaman

Senjata: Tanpa senjata
Sarana: Kapal cepat
Metode: Terorganisir
Jaringan: Regional
Dukungan: Dalam negeri
Bisnis: Tak berbisnis
Skill: Terlatih
Jenis Aktor: Bukan negara
Kepentingan: Lain-lain
Intensitas: Sering
Komitmen: Terencana
Instrumen: Fisik
Target: Individu sipil

Perihal: Penangkapan kapal cepat membawa Pekerja Migran Indonesia non prosedural di perairan Karimun, Kepulauan Riau

Opini dan Prediksi: Faktor-faktor yang mempengaruhi peristiwa tersebut meliputi kekurangan pengawasan di perairan terdekat dengan Malaysia dan Singapura, serta tingginya permintaan pekerja migran Indonesia non prosedural. Pelaku kegiatan ini mungkin adalah sindikat penyelundupan PMI non prosedural yang beroperasi di wilayah tersebut. Untuk mencegah kejadian serupa, diperlukan peningkatan koordinasi antarinstansi terkait, peningkatan patroli di perairan yang rawan, serta peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya penyelundupan PMI non prosedural dan konsekuensinya.

Level ancaman relatif terhadap keamanan nasional = 1.06

Penyelundupan dan penggelapan kendaraan roda empat dan roda dua yang diekspor ke Timor Leste.

WHAT: Penyelundupan dan penggelapan kendaraan roda empat dan roda dua yang diekspor ke Timor Leste.
WHO: Pengusaha T, eksportir PT RA, polisi (William), serta tersangka lainnya berinisial GP, AM, dan C.
WHEN: Tidak tercantum informasi waktu spesifik dalam teks.
WHERE: Gudang milik tersangka T di Jawa Tengah, lokasi eksportir PT RA, Meratus Kupang pelayaran nomor YSU 25 3350.
HOW/Chronology: Pengusaha T dari Jawa Tengah melakukan penyelundupan dan penggelapan kendaraan roda empat dan roda dua. Kendaraan dimodifikasi speedometer dan dikemas rapi untuk diekspor ke Timor Leste. Polisi menemukan dua kontainer yang memuat kendaraan tersebut dan telah menetapkan beberapa tersangka terkait peristiwa ini.
WHY: Penyelundupan dan penggelapan kendaraan dilakukan oleh pengusaha T dan rekan-rekannya untuk keuntungan pribadi melalui tindakan yang melanggar hukum dan merugikan pihak lain.

Analisis Level Ancaman

Senjata: Tanpa senjata
Sarana: Mobil
Metode: Terorganisir
Jaringan: Nasional
Dukungan: Dalam negeri
Bisnis: Bahan peledak
Skill: Terlatih
Jenis Aktor: Bukan negara
Kepentingan: Kekayaan
Intensitas: Sesekali
Komitmen: Terencana
Instrumen: Fisik
Target: Individu sipil

Perihal: Penemuan kasus penyelundupan dan penggelapan kendaraan yang melibatkan beberapa tersangka, termasuk pengusaha T.

Opini dan Prediksi: Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya peristiwa tersebut antara lain adanya jaringan terorganisir dalam kasus penyelundupan dan penggelepan kendaraan yang melibatkan eksportir, penadah, dan penjual. Dalang atau pelaku pada kejadian tersebut adalah mereka yang terlibat dalam skema kepemilikan kendaraan dengan modus operasi menyelundupkan kendaraan tersebut ke luar negeri. Untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, penting untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas ekspor impor dan bisnis kendaraan serta peningkatan koordinasi antara berbagai instansi terkait untuk mencegah tindak pidana seperti penyelundupan dan penggelapan barang. Selain itu, pembentukan regulasi yang lebih ketat dan penegakan hukum yang tegas dapat menjadi langkah preventif untuk mencegah kejahatan semacam ini.

Level ancaman relatif terhadap keamanan nasional = 1.15

JP ditangkap oleh Satreskrim Polres Bungo karena membawa benih lobster ilegal.

WHAT: JP ditangkap oleh Satreskrim Polres Bungo karena membawa benih lobster ilegal.
WHO: JP (terduga pelaku), Kanit Idik III Ipda Rizky Threeyudha Putra (polisi yang memimpin penangkapan), anggota Satreskrim Polres Bungo.
WHEN: Hari Jumat, 19-07-YYYY 01.00 WIB (tanggal lengkap tidak disebutkan).
WHERE: Jalan Lintas Sumatera, Kelurahan Sungai Mengkuang, Kecamatan Rimbo Tengah, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi.
HOW/Chronology: Penangkapan terhadap JP dilakukan setelah polisi menerima informasi bahwa kendaraan yang membawa benih lobster berada di Jalan Lintas Sumatera. Setelah mengumpulkan anggota, polisi berhasil menemukan dan melakukan penangkapan terhadap mobil berisi 16 boks styrofoam yang diduga memuat benih lobster ilegal. Selanjutnya, pelaku dibawa ke Mapolres Bungo untuk dimintai keterangan.
6. Alasan: Penangkapan dilakukan karena JP diduga membawa benih lobster ilegal, yang melanggar ketentuan hukum terkait penangkapan dan perdagangan hewan dilindungi.

Analisis Level Ancaman

Senjata: Tanpa senjata
Sarana: Mobil
Metode: Terorganisir
Jaringan: Lokal
Dukungan: Dalam negeri
Bisnis: Bahan peledak
Skill: Terlatih
Jenis Aktor: Bukan negara
Kepentingan: Kekayaan
Intensitas: Sering
Komitmen: Terencana
Instrumen: Fisik
Target: Individu sipil

Perihal: Penangkapan terhadap pengangkut benih lobster ilegal di Jalan Lintas Sumatera, Kabupaten Bungo.

Opini dan Prediksi: Penangkapan terjadi berkat informasi yang diterima dan diproses dengan baik oleh aparat kepolisian lokal. Pelaku merupakan individu yang terlibat dalam bisnis illegal pengangkutan benih lobster. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian ini bisa meliputi ketiadaan izin, pelanggaran hukum terkait peraturan perlindungan satwa, serta motif keuntungan finansial dari bisnis ilegal tersebut. Untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, penegakan hukum terhadap pelaku bisnis ilegal dan penegakan aturan terkait perlindungan satwa harus ditingkatkan. Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya konservasi satwa liar juga penting untuk mencegah praktik ilegal seperti ini.

Level ancaman relatif terhadap keamanan nasional = 1.26

Kerusuhan pecah di Puncak Jaya, Papua Tengah, menyusul penembakan terhadap tiga warga yang diklaim sebagai anggota kelompok pro-kemerdekaan Papua oleh aparat militer Indonesia.

WHAT: Kerusuhan pecah di Puncak Jaya, Papua Tengah, menyusul penembakan terhadap tiga warga yang diklaim sebagai anggota kelompok pro-kemerdekaan Papua oleh aparat militer Indonesia.
WHO: (1) Aparat militer Indonesia, (2) Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), (3) Warga asli Papua di Kampung Karubate, Distrik Muara, (4) Tokoh adat Otis Murib.
WHEN: Tidak disebutkan tanggal dan jamnya dalam teks.
WHERE: Kampung Karubate, Distrik Muara, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah, Provinsi Papua.
HOW/Chronology: Kerusuhan terjadi setelah penembakan terhadap tiga warga Papua yang dituduh sebagai anggota milisi pro-kemerdekaan oleh aparat militer Indonesia. Tokoh adat Otis Murib membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa korban adalah warga sipil.
WHY: Kerusuhan dipicu oleh klaim aparat militer bahwa tiga warga yang tewas adalah anggota milisi pro-kemerdekaan Papua, yang kemudian disangkal oleh tokoh adat dan warga setempat. Mendesak perlunya investigasi lebih lanjut terkait aksi penembakan yang dilakukan oleh aparat militer.

Analisis Level Ancaman

Senjata: senjata
Sarana: tanpa kendaraan
Metode: terorganisir
Jaringan: lokal
Dukungan: dalam negeri
Bisnis: tak berbisnis
Skill: terlatih
Jenis Aktor: tidak diketahui
Kepentingan: politik
Intensitas: insidental
Komitmen: terencana
Instrumen: fisik
Target: individu sipil

Perihal: Kerusuhan di Puncak Jaya, Papua Tengah, menyusul penembakan terhadap tiga warga Papua yang diklaim sebagai anggota kelompok pro-kemerdekaan Papua.

Opini dan Prediksi: Berdasarkan laporan tersebut, faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya peristiwa tersebut antara lain kemungkinan miskomunikasi atau kesalahpahaman antara aparat militer dan masyarakat setempat, serta ketegangan politik terkait isu kemerdekaan Papua. Dalang atau pelaku pada kejadian tersebut dapat mencakup kombinasi dari kelompok pro-kemerdekaan Papua, aparat militer, atau pihak-pihak yang ingin memperkeruh situasi politik di daerah tersebut. Untuk mencegah kejadian serupa agar tidak terulang di masa depan, penting untuk meningkatkan dialog antara pemerintah dan komunitas lokal, serta menyelesaikan konflik politik dan sosial secara damai dengan menghormati hak asasi manusia dan mendengarkan aspirasi masyarakat Papua secara inklusif.

Level ancaman relatif terhadap keamanan nasional = 1.04

Kerusuhan pecah di Puncak Jaya, Papua Tengah menyusul penembakan terhadap tiga warga yang diklaim sebagai anggota kelompok pro-kemerdekaan Papua oleh aparat militer Indonesia.

WHAT: Kerusuhan pecah di Puncak Jaya, Papua Tengah menyusul penembakan terhadap tiga warga yang diklaim sebagai anggota kelompok pro-kemerdekaan Papua oleh aparat militer Indonesia.
WHO: Aparat militer Indonesia, TPNPB-OPM, warga masyarakat, pegiat HAM, tokoh adat di Distrik Muara seperti Otis Murib.
WHEN: Kamis, 19-07.
WHERE: Kampung Karubate, Distrik Muara, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah.
HOW/Chronology: Aparat militer menuduh tiga warga sebagai anggota milisi pro-kemerdekaan Papua, sementara tokoh adat seperti Otis Murib membantah klaim tersebut dan menuntut pertanggungjawaban dari Kodam Cenderawasih terkait dugaan pembunuhan terhadap warga sipil.
WHY: Penembakan terhadap tiga warga yang diklaim sebagai anggota kelompok pro-kemerdekaan Papua menyebabkan ketegangan dan konflik antara masyarakat adat, TPNPB-OPM, dan aparat militer Indonesia. Diperlukan investigasi lebih lanjut untuk mengungkap kebenaran dan menyelesaikan masalah secara adil.

Analisis Level Ancaman

Senjata: senjata ringan
Sarana: tanpa kendaraan
Metode: terorganisir
Jaringan: nasional
Dukungan: dalam negeri
Bisnis: tak berbisnis
Skill: terlatih
Jenis Aktor: bukan negara
Kepentingan: SARA
Intensitas: insidental
Komitmen: terencana
Instrumen: fisik
Target: individu sipil

Perihal: Penembakan terhadap tiga warga di Puncak Jaya, Papua Tengah, yang memicu kerusuhan.

Opini dan Prediksi: Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya peristiwa tersebut antara lain adalah klaim yang tidak bisa dipertanggungjawabkan mengenai identitas para korban oleh aparat militer, kesenjangan informasi antara aparat dan masyarakat setempat, serta ketegangan politik terkait isu Papua merdeka. Pelaku kekerasan mungkin berasal dari kelompok-kelompok bersenjata yang terlibat dalam konflik Papua, namun belum ada kejelasan mengenai siapa dalang dari peristiwa ini. Untuk mencegah terjadinya kekerasan serupa di masa depan, penting untuk meningkatkan dialog antara pemerintah Indonesia, kelompok-kelompok pro-kemerdekaan Papua, dan masyarakat lokal untuk mencapai solusi damai, serta memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam penegakan hukum terhadap pelanggaran hak asasi manusia.

Level ancaman relatif terhadap keamanan nasional = 1.13

Kerusuhan pecah di Puncak Jaya, Papua Tengah, menyusul penembakan terhadap tiga warga yang diklaim sebagai anggota kelompok pro-kemerdekaan Papua oleh aparat militer Indonesia.

WHAT: Kerusuhan pecah di Puncak Jaya, Papua Tengah, menyusul penembakan terhadap tiga warga yang diklaim sebagai anggota kelompok pro-kemerdekaan Papua oleh aparat militer Indonesia.
WHO: Masyarakat di Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah, TPNPB-OPM, aparat militer Indonesia (Kodam XVII/Cenderawasih), tokoh adat Otis Murib.
WHEN: Hari Kamis, 19-07.
WHERE: Kampung Karubate, Distrik Muara, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah.
HOW/Chronology: Penembakan terhadap tiga warga Papua terjadi di Kampung Karubate oleh aparat militer yang menyatakan mereka sebagai anggota milisi pro-kemerdekaan Papua. Namun, tokoh adat Otis Murib membantah klaim tersebut dan menyatakan para korban adalah warga sipil, bukan anggota TPNPB-OPM. Masyarakat pun menuntut pertanggungjawaban dari Kodam Cenderawasih terkait aksi penembakan tersebut.
WHY: Kerusuhan terjadi karena dugaan penembakan yang dilakukan oleh aparat militer terhadap warga Papua yang diklaim sebagai anggota kelompok pro-kemerdekaan, memicu konflik antara masyarakat Papua dan pihak militer.

Analisis Level Ancaman

Senjata: senjata ringan
Sarana: tanpa kendaraan
Metode: terorganisir
Jaringan: lokal
Dukungan: dalam negeri
Bisnis: tak berbisnis
Skill: terlatih
Jenis Aktor: bukan negara
Kepentingan: SARA
Intensitas: sesekali
Komitmen: terencana
Instrumen: fisik
Target: individu sipil

Perihal: Kerusuhan pecah di Puncak Jaya, Papua Tengah menyusul penembakan terhadap tiga warga yang diklaim sebagai anggota kelompok pro-kemerdekaan Papua oleh aparat militer Indonesia.

Opini dan Prediksi: Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya peristiwa tersebut antara lain ketegangan politik di Papua, ketidakpercayaan antara masyarakat Papua dengan aparat keamanan, serta ketidakadilan sosial dan politik yang dirasakan oleh masyarakat Papua. Dalang atau pelaku pada kejadian tersebut dapat berasal dari pihak-pihak yang ingin memprovokasi kemarahan masyarakat Papua, atau memperbesar kesenjangan sosial-politik di daerah tersebut guna kepentingan politik tertentu. Agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan, penting untuk meningkatkan dialog dan komunikasi antara pemerintah Indonesia dan masyarakat Papua, serta menyelesaikan ketidakadilan sosial dan politik yang menjadi akar permasalahan di daerah tersebut. Mendengarkan aspirasi masyarakat Papua, menjalankan pemerintahan yang transparan dan akuntabel, serta memberikan keadilan bagi seluruh warga Papua dapat menjadi langkah-langkah pencegahan yang efektif.

Level ancaman relatif terhadap keamanan nasional = 1.15

Penembakan tiga orang oleh prajurit TNI di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Pegunungan yang menyebabkan kerusuhan.

WHAT: Penembakan tiga orang oleh prajurit TNI di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Pegunungan yang menyebabkan kerusuhan.
WHO: TNI, Organisasi Papua Merdeka (OPM), warga Puncak Jaya.
WHEN: Hari Selasa, 16-07-2024 (tanpa informasi jam pasti).
WHERE: Di daerah Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Pegunungan, Provinsi Papua.
HOW/Chronology: Prajurit TNI menembak tiga orang yang mereka sebut sebagai anggota gerombolan OPM. Hal ini memicu kerusuhan di mana warga membakar kendaraan-kendaraan, termasuk yang milik TNI Polri. Pasca-kerusuhan, situasi di Puncak Jaya berangsur kondusif tetapi aktivitas masyarakat lumpuh.
WHY: Penembakan dilakukan oleh TNI karena melumpuhkan gerombolan OPM yang disebut telah menembak masyarakat sipil dan aparat keamanan, serta merusak fasilitas umum. Penembakan tersebut menjadi kontroversial karena warga meyakini korban adalah warga sipil, sedangkan TNI menyebut mereka sebagai anggota OPM yang berbahaya.

Analisis Level Ancaman

Senjata: senjata ringan
Sarana: tanpa kendaraan
Metode: terorganisir
Jaringan: lokal
Dukungan: dalam negeri
Bisnis: tak berbisnis
Skill: terlatih
Jenis Aktor: bukan negara
Kepentingan: SARA
Intensitas: insidental
Komitmen: terencana
Instrumen: fisik
Target: individu sipil

Perihal: Tiga orang tewas ditembak prajurit TNI di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Pegunungan

Opini dan Prediksi: Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya peristiwa tersebut meliputi konflik antara TNI dan gerombolan OPM yang terus berlanjut, situasi politik dan sosial yang tidak stabil di daerah Papua, serta ketegangan antara aparat keamanan dan kelompok separatis. Pelaku kejadian tersebut kemungkinan adalah individu atau kelompok yang terlibat dalam gerakan separatis yang bertujuan untuk meraih kemerdekaan bagi Papua. Untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan, perlu dilakukan pendekatan komprehensif yang melibatkan dialog, penyelesaian konflik secara damai, peningkatan kesejahteraan masyarakat di Papua, serta penguatan keamanan dan penegakan hukum yang lebih baik untuk mengatasi konflik bersenjata di daerah tersebut.

Level ancaman relatif terhadap keamanan nasional = 1.08

Penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terhadap Senus Lepitalen di Borme, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan.

WHAT: Penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terhadap Senus Lepitalen di Borme, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan.
WHO: Senus Lepitalen (korban), Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), Kasatgas Operasi Damai Cartenz Kombes Pol Faizal Rahmadani.
WHEN: Hari Kamis, 12-05-2023 (tanggal penyanderaan sebelumnya) & Kamis pagi (tanpa tanggal pasti penembakan).
WHERE: Kampung Calap, Distrik Borme, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.
HOW/Chronology: Senus Lepitalen sebelumnya menjadi korban penganiayaan dan penyanderaan oleh KKB pada tanggal 12 Mei 2023 di Distrik Okbab, Kabupaten Pegunungan Bintang. Kemudian, Senus Lepitalen ditembak oleh salah satu anggota KKB saat sedang di rumahnya di Borme. Jenazahnya disemayamkan di rumah duka di kampung Calap.
WHY: Penembakan terhadap Senus Lepitalen diduga terkait dengan konflik antara KKB dan warga serta tindakan sebelumnya yang dilakukan terhadap karyawan PT. IBS oleh KKB.

Analisis Level Ancaman

Senjata: senjata api laras pendek
Sarana: tanpa kendaraan
Metode: terorganisir
Jaringan: lokal
Dukungan: dalam negeri
Bisnis: tak berbisnis
Skill: terlatih
Jenis Aktor: bukan negara
Kepentingan: SARA
Intensitas: insidental
Komitmen: terencana
Instrumen: fisik
Target: individu sipil

Perihal: Penembakan terhadap warga Borme, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan

Opini dan Prediksi: Pelaku dalam kejadian ini dimungkinkan merupakan bagian dari kelompok kriminal bersenjata yang memiliki agenda terorisme atau pemberontakan terhadap pemerintah daerah. Faktor-faktor yang mempengaruhi peristiwa tersebut bisa meliputi kesenjangan sosial, ketidakpuasan terhadap pemerintah, ajaran radikal, ketidakstabilan keamanan, serta konflik politik dan ideologis. Pelaku dalam kasus ini mungkin merupakan individu atau kelompok yang ingin menciptakan ketakutan dan ketidakstabilan di wilayah tersebut. Untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain adalah peningkatan keamanan, penegakan hukum yang tegas, upaya rekonsiliasi sosial, pembangunan ekonomi untuk mengurangi kemiskinan, serta edukasi masyarakat terkait perdamaian dan toleransi. Coordinasi yang baik antara pihak keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat juga penting untuk menjaga stabilitas dan keamanan di daerah yang rentan konflik.

Level ancaman relatif terhadap keamanan nasional = 1.08

Satresnarkoba Polres Batu berhasil mengungkap 15 kasus tindak pidana peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba.

WHAT: Satresnarkoba Polres Batu berhasil mengungkap 15 kasus tindak pidana peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba.
WHO: Kasat Resnarkoba Polres Batu, Iptu Ariek Yuly Irianto, S.H. M.M., 16 tersangka terkait peredaran narkoba.
WHEN: Tanggal Jumat, 14-06-2024.
WHERE: Wilayah hukum Polres Batu, Kota Batu, Bumiaji, dan Junrejo di Kota Batu, Jawa Timur.
HOW/Chronology: Polres Batu berhasil mengungkap 15 kasus peredaran narkoba dengan menangkap 16 tersangka yang terdiri dari pengedar, perantara, dan kurir. Jenis narkotika yang disita meliputi sabu sebanyak 794,7 gram dan Pil Dobel L sebanyak 6272 butir. Estimasi nilai ekonomis barang bukti sebesar Rp. 969juta. Mayoritas barang bukti ditemukan di wilayah Kota Batu, sedangkan wilayah lain masih dalam penyelidikan.
WHY: Penyebab terjadinya peredaran narkoba adalah adanya jaringan peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba yang melibatkan banyak pihak dari pengedar hingga pengguna.

Analisis Level Ancaman

Senjata: senjata tajam
Sarana: tanpa kendaraan
Metode: terorganisir
Jaringan: lokal
Dukungan: dalam negeri
Bisnis: narkoba
Skill: terlatih
Jenis Aktor: bukan negara
Kepentingan: kekayaan
Intensitas: insidental
Komitmen: terencana
Instrumen: fisik
Target: individu sipil

Perihal: Penangkapan 16 tersangka terkait peredaran gelap narkoba di wilayah hukum Polres Batu.

Opini dan Prediksi: Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya peristiwa tersebut antara lain adanya jaringan terorganisir lokal yang terlatih dalam peredaran narkoba di wilayah tersebut. Pelaku memiliki kepentingan kekayaan melalui bisnis narkoba. Dalang atau pelaku pada kejadian ini terdiri dari kurir, pengedar, dan perantara narkoba yang bekerja sama dalam jaringan yang terorganisir. Untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa depan, tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain adalah meningkatkan keamanan dan patroli di wilayah-wilayah yang rentan, memperkuat kerjasama antar lembaga penegak hukum, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan narkoba.

Level ancaman relatif terhadap keamanan nasional = 1.07

Aksi teror oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di wilayah Intan Jaya, Papua.

WHAT: Aksi teror oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di wilayah Intan Jaya, Papua.
WHO: Kelompok kriminal bersenjata (KKB) atau Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), TNI-Polri, masyarakat sipil termasuk para pedagang dan warga di wilayah Intan Jaya.
WHEN: Selasa, 11-04-2023 dan Rabu, 12-04-2023.
WHERE: Intan Jaya, Papua Tengah, Provinsi Papua.
HOW/Chronology: KKB melakukan intimidasi dengan mengusir dan mengancam para perempuan pedagang di pasar, serta mengancam warga di Kampung Mambak Sugapa untuk mengosongkan kampungnya dengan alasan akan berperang dengan aparat keamanan TNI-Polri. Mereka juga memutar balik fakta dan memfitnah, mengancam dan membunuh warga serta pejabat pemerintah. Ada juga penembakan terhadap pesawat di wilayah tersebut.
WHY: Teror oleh KKB tersebut dilakukan sebagai bagian dari gerakan separatis untuk mempertahankan klaim mereka atas kemerdekaan Papua, serta sebagai upaya memperoleh perhatian internasional atas kondisi di Papua. Upaya propaganda dan fitnah dilakukan untuk mempengaruhi opini publik dan membuat masyarakat resah.

Analisis Level Ancaman

Senjata: senjata ringan
Sarana: tanpa kendaraan
Metode: terorganisir
Jaringan: lokal
Dukungan: dalam negeri
Bisnis: tak berbisnis
Skill: terlatih
Jenis Aktor: bukan negara
Kepentingan: SARA
Intensitas: insidental
Komitmen: terencana
Instrumen: fisik
Target: individu sipil

Perihal: Aksi teror oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di wilayah Papua, dengan fitnah terhadap pasukan TNI-Polri.

Opini dan Prediksi: Berdasarkan fakta-fakta tersebut, faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya peristiwa tersebut antara lain adalah konflik politik dan ideologis di Papua, kelompok KKB yang ingin memperjuangkan kemerdekaan Papua, serta upaya propaganda untuk mempengaruhi opini masyarakat. Dalang atau pelaku pada kejadian tersebut adalah kelompok KKB di Papua yang terlibat dalam aksi teror dan propagandanya. Untuk mencegah terulangnya kejadian tersebut di masa depan, penting untuk meningkatkan dialog dan penyelesaian konflik secara damai, meningkatkan keamanan dan pemantauan terhadap kelompok bersenjata, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap propaganda dan hoaks yang dapat merusak kedamaian dan stabilitas di daerah tersebut.

Level ancaman relatif terhadap keamanan nasional = 1.08