Level Ancaman: 0.8

Banjir luas di Aceh akibat cuaca ekstrem yang memicu banjir, tanah longsor, dan tanah bergerak di 16 Kabupaten/Kota Provinsi Aceh.

Rangkuman:
WHAT: Banjir luas di Aceh akibat cuaca ekstrem yang memicu banjir, tanah longsor, dan tanah bergerak di 16 Kabupaten/Kota Provinsi Aceh.
WHO: BPBA (Badan Penanggulangan Bencana Aceh) dan Pusdalops BPBA; warga terdampak banjir dan pengungsi; pemerintah daerah (bupati/walikota) dan aparat penanganan darurat.
WHEN: 18-11-2025 07:00 – 27-11-2025 16:00 WIB
WHERE: Obyek kejadian: Wilayah Provinsi Aceh; Kabupaten/Kota terdampak: Pidie, Aceh Besar, Pidie Jaya, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Subulussalam, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Singkil, Aceh Utara, Aceh Selatan; Provinsi: Aceh
HOW/Chronology: Hujan deras dan angin kencang berkepanjangan sejak 18 November 2025 menyebabkan banjir, tanah bergerak, dan longsor di berbagai wilayah Aceh. Pada 19 November sekitar pukul 16:30 WIB terjadi banjir bandang di Desa Pantai Kemuning, Timang Gajah, Bener Meriah, dengan satu orang hilang terseret arus. Seiring waktu, banjir meluas ke sejumlah kecamatan di Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Langsa, Lhokseumawe, Aceh Timur, Aceh Selatan dan wilayah lain. Lhokseumawe mengalami banjir dan longsor sejak 26 November 2025 pukul 08:40 WIB. Beberapa daerah mengalami banjir dengan ketinggian 30-100 cm; Kabupaten Aceh Barat dan Subulussalam juga terdampak; Aceh Utara, Aceh Singkil, dan daerah lain terus terdampak. Sementara itu delapan kabupaten/kota ditetapkan darurat, dan upaya evakuasi serta bantuan darurat dilakukan.
WHY: Hujan dengan intensitas tinggi selama beberapa hari; angin kencang; kondisi geologi labil menyebabkan banjir, tanah bergerak, dan tanah longsor.

Analisis Level Ancaman

Skala: propinsi
Kerusakan: properti pribadi
Meninggal: korban meninggal 0 – 10
Luka: korban luka-luka 0 – 20
Perihal: Banjir dan tanah longsor di Provinsi Aceh sejak 18–27 November 2025, melibatkan 16 kabupaten/kota dengan sejumlah rumah terendam, pengungsian massal, serta dampak tanah bergerak.
Opini: Analisis: Banjir yang melanda Aceh disebabkan curah hujan tinggi dan geologi labil, melibatkan banyak wilayah dan rumah tangga, menimbulkan pengungsian besar serta potensi longsor terutama di daerah pegunungan dan lereng. Kapasitas respons darurat perlu ditingkatkan; gangguan drainase dan infrastruktur memperparah dampak. Prediksi: jika curah hujan terus berlanjut, banjir bisa bertahan lama dan kapasitas evakuasi dapat teruji; risiko penyakit terkait air bersih meningkat; pemulihan infrastruktur akan memerlukan waktu panjang. Rekomendasi: 1) Perkuat posko darurat, evakuasi terpusat ke fasilitas aman; 2) Distribusikan logistik, air bersih, dan fasilitas kesehatan; 3) Perbaiki drainase dan pemantauan banjir, serta identifikasi wilayah rawan longsor; 4) Optimalkan koordinasi BPBA, BPBD, Basarnas, TNI/Polri; 5) Lakukan kaji cepat kerugian dan rencana pemulihan jangka menengah; 6) Tingkatkan komunikasi dengan BMKG untuk pembaruan cuaca dan peringatan dini.

Level ancaman relatif terhadap keamanan nasional = 0.8

Teks asli
BANDA ACEH, 27 November 2025, 16.50 WIB — Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan kondisi banjir di 16 Kabupaten/Kota (Pidie, Aceh Besar, Pidie Jaya, Aceh Tamiang,Aceh Tenggara, Aceh Barat, Subulussalam,Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Singkil, Aceh Utara, dan Aceh Selatan) di Provinsi Aceh. Selama periode 18 November 2025 pukul 07.00 WIB hingga 27 November 2025 pukul 16.00 WIB terdampak pada rumah milik 33.817 KK/119.988 Jiwa dan 6.998 KK/20.759 Jiwa mengungsi. Sebagian besar kejadian masih dipicu oleh curah hujan tinggi, angin kencang, dan kondisi geologi labil yang berdampak pada banjir, tanah bergerak, serta tanah longsor.\n\nBanjir di Kabupaten Bener Meriah, Satu orang dinyatakan hilang terseret arus Ketika banjir bandang terjadi wilayah kecamatan Wih Pesam. Akibat hujan deras dengan intensitas tinggi yang terus-menerus mengguyur wilayah Bener Meriah dan menyebabkan terjadinya longsor sekira pukul 16.30 WIB di Desa Pantai Kemuning, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Rabu (19/11). Banjir mengenangi 10 Kecamatan seperti di Kec. Bandar, Kec. Bener Kelipah, Kec. Bukit, Kec. Gajah Putih, Kec. Mesidah, Kec. Permata, Kec. Pintu Rime Gayo, Kec. Syiah Utama, Kec. Timang Gajah dan Kec. Wih Pesam.\n\nWilayah Aceh Besar mulai terdampak banjir dari kemarin (27/11) dengan ketinggian sekitar 30-50 cm pada 23 kecamatan dengan jumlah 36 KK mengungsi, sedangkan banjir Kabupaten Pidie terdampak pada 2.979 KK/12.853 Jiwa terdampak dan 2.081 KK/7.585 jiwa mengungsi ke posko banjir di kecamatan masing-masing dikarenakan banjir belum surut.\n\nHujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Pidie Jaya dan Bireuen mengakibatkan banjir di puluhan kecamatan dengan ketinggian air sekitar 30-100 cm. Banjir Pidie terdampak pada 6.039 KK/ 22.190 Jiwa sedangkan Bireuen 956 KK/2.272 Jiwa. Tidak ada data warga yang mengungsi namun informasi terakhir dari pusdalops menyebut kondisi terakhir banjir belum surut.\n\nSementara itu di Kota Lhokseumawe telah terjadi banjir dan longsor sejak Rabu, 26 November 2025 pukul 08.40 WIB. Akibat hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang yang berlangsung terus-menerus mulai dari tanggal 20-27 November 2025 (saat ini), menyebabkan genangan, banjir dan tanah longsor. Banjir dan lonsor terjadi di 4 (empat) Kecamatan seperti, Kecamatan Banda Sakti, Kecamatan Blang Mangat, Kecamatan Muara Dua (100 KK) dan Kecamatan Muara Satu.\n\nCuaca ekstrem yang terjadi di Kabupaten Aceh Timur sejak Sabtu, 22 November 2025, kembali mengakibatkan banjir dan angin kencang di sejumlah Desa. Hujan dengan intensitas tinggi hingga lebat disertai angin kencang melanda wilayah Kabupaten Aceh Timur Debit air yang tinggi dan durasi hujan yang cukup lama menyebabkan saluran drainase di beberapa titik tidak mampu menampung luapan air. Banjir teradampak pada 7.972 KK/29.706 Jiwa dan mengungsi 920 KK/2.456 Jiwa. Info terakhir air masih belum surut dan 3 Rumah mengalami rusak berat, 1 rusak sedang dan 1 rusak ringan akibat terjangan banjir.\n\nBerdasarkan laporan Pusdalops BPBA, Banjir terjadi akibat hujan dengan instesitas tinggi selama 3 (tiga) hari terakhir di Kota Langsa menyebabkan banjir genangan. Banjir genangan tersebut merupakan air kiriman dari lahan perkebunan kelapa sawit PTPN 1 Langsa. Dampak material dari musibah ini terendamnya 110 (setatus sepuluh) unit rumah di Desa Paya Bujok Seulemak. Ketinggian air di beberapa titik dilaporkan mencapai 20 -40 cm dan air masih belum surut. Info terakhir banjir dan Longsor terjadi di beberapa kecamatan seperti Kec. Langsa Barat, Kec. Langsa Barat (150 KK/420 Jiwa), Kec. Langsa Kota, Kec. Langsa Lama dan Kec. Langsa Timur.\n\nPusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan telah terjadi banjir di Kabupaten Gayo Lues pada hari Selasa (18/11). Banjir setidaknya membuat 11 (sebelas) Kecamatan terdampak banjir seperti di Kec. Blang Jeurago, Kec. Blang Keujeren, Kec. Blang Pegayon, Kec. Dabun Gelang, Kec. Kuta Panjang, Kec. Pantan Cuaca, Kec. Pining, Kec. Putri Beutung, Kec. Rikit Gaib, Kec. Teuragon dan Kec. Tripe Jaya. Informasi terakhir dari Pusdalops BPBA banjir masih belum surut.\n\nBanjir Juga terjadi di Kabupaten Aceh Barat dan Subulussalam akibat hujan dengan internsitas tinggi di wilayah tersebut. Data semantara banjir Aceh Barat di 12 kecamatan dengan ketinggian 130 cm terdampak pada 183 KK/265 Jiwa . Informasi terakhir yang diterima pusdalops banjir masih belum surut. Sedangkan di kabupaten subulussalam banjir terjadi di 5 kecamatan terdampak 1.981 KK/9.291 jiwa. Banjir di dua Kabupaten tersebut diketahui belum surut.\n\nIntesitas hujan yang tinggi di Kabupaten Aceh Singkil, mengakibatkan meluapnya Sungai Lae Cinedang. Banjir merendam 11 kecamatan dengan jumlah terdampak 6.579 KK/ 25.827 Jiwa. Info dari Pusdalops terikini air belum surut dan ketinggian air ±50-80 cm serta kembali terjadi banjir di beberapa daerah.\n\nKondisi terkini banjir juga terjadi di 27 kecamatan di Aceh Utara. Hujan yang terus terjadi dalam beberapa hari terakhir menyebabkan erosi tebing sungai dan banjir setinggi air ±30-80 cm berdampak pada 2.028 KK/3.690 Jiwa dan 438 KK/1.444 jiwa mengungsi.\n\nRumah dan lahan kebun warga terendam banjir yang terjadi di 18 kecamatan wilaya Kabupaten Aceh Selatan sejak Sabtu 22 November 2025. Petugas jaga Pusdalops PB BPBD Aceh Selatan menerima laporan dari masyarakat terkait naiknya debit yang kemudian meluap dan menggenangi wilayah permukiman dan lahan warga. Banjir juga terdampak pada 858 KK/3.106 jiwa, kondisi terakhir air telah berangsur surut.\n\nSebanyak delapan kabupaten/kota di Aceh kini ditetapkan sebagai daerah berstatus darurat bencana hidrometeorologi atau bencana banjir. Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Fadmi Ridwan mengatakan, penetapan status tersebut dikeluarkan oleh masing-masing kepala daerah berdasarkan kondisi terkini yang melanda wilayah setempat. \”Kabupaten yang telah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi yaitu Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Singkil, Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Aceh Barat,\” kata Fadmi.\n\nSementara itu, menindaklanjuti surat Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Nomor 300.2.8/9333/SJ tanggal 18 November 2025, Bupati dan Wali Kota seluruh Aceh telah diinstruksikan untuk siap siaga potensi bencana hidrometeorologi.\n\nTindakan yang harus dilakukan Pemerintah:\n\n1. Aktifkan posko siaga darurat BPBD\n\n2. Lakukan evakuasi masyarakat\n\n3. Siapkan Logistik darurat\n\n4. Aktifkan layanan kesehatan darurat\n\n5. Pantau data cuaca dan debit air Sungai\n\n6. Koordinasi dengan Lembaga terkait\n\n7. Lakukan kaji cepat di daerah yang terdampak dan tetapkan status tanggap darurat\n\nTindakan yang harus dilakukan Masyarakat:\n\n1. Segera evakuasi diri ke tempat yang lebih tinggi\n\n2. Matikan listrik, gas dan kompor sebelum evakuasi\n\nSelain itu, pemerintah daerah juga diminta untuk segera melakukan pertolongan cepat, pendataan jumlah korban, dan kerugian serta pemenuhan kebutuhan dasar korban terdampak bencana sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang berlaku.\n\nBPBA terus melakukan koordinasi dengan BPBD di berbagai wilayah serta memastikan langkah-langkah penanganan darurat berjalan optimal. BPBA mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi banjir, tanah bergerak, dan longsor, terutama pada wilayah dengan curah hujan tinggi.\n\nMitigasi sederhana seperti membersihkan saluran air, menjauhi lereng saat hujan, serta memantau informasi dari BMKG dan BPBD setempat menjadi langkah penting dalam mengurangi risiko bencana.